BAURAN PEMASARAN #1 PRODUK

 PENGERTIAN PRODUK

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk daya tarik, akuisisi, penggunaan, atau konsumsi yang bisa memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan. Produk tidak hanya meliputi objek-objek fisik tetapi juga jasa, acara, orang, tempat, organisasi, ide, atau campuran entitas-entitas ini.

MACAM-MACAM PRODUK

1.    Penggolongan Produk Berdasarkan Dimensi Kepuasan dan Kesejahteraan Konsumen Jangka Panjang

Dalam penggolongan ini dapat dibuat tingkatan-tingkatan pada dimensi tinggi dan rendah. Setiap kombinasi dari tingkatan dimensi tersebut akan menciptakan golongan produk tersendiri. Produk dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu:

a.    Produk yang bermanfaat (salutary product), yaitu produk yang mempunyai daya penarik rendah tetapi dapat memberikan manfaat yang tinggi kepada konsumen dalam jangka panjang. Misalkan deterjen dengan fosfat rendah.

b.    Produk yang kurang sempurna (deficient product), yaitu produk yang tidak mempunyai daya penarik baik yang tinggi maupun kualitas yang bermanfaat. Seperti obat-obatan yang berasa pahit.

c.    Produk yang menyenangkan (pleasing product), yaitu produk yang dapat segera memberikan kepuasan tetapi dapat berakibat buruk bagi konsumen dalam jangka panjang. Missal rokok

d.    Produk yang sangat diperlukan (desirable product), yaitu produk yang dapat memberikan kepuasan segera dan sangat bermanfaat dalam jangka panjang. Seperti makanan yang bergizi tinggi

2.    Penggolongan Produk Menurut Tujuan Pemakaiannya

Penggolongan barang menurut tujuan pemakaiannya oleh konsumen ini banyak digunakan karena sangat praktis. Menurut tujuan pemakaian oleh konsumen, produk dapat digolongkan kedalan dua golongan, yaitu produk konsumen (custumer’s good) dan produk industrial (industrial’s good).

a.    Produk Konsumen

Produk konsumen (custumer’s good) adalah produk-produk yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen (akhir) dan keluarganya sendiri. Untuk dasar perencanaan pemasaran, produk konsumen dibedakan atas dasar prilaku pembelian dan respon konsumen terhadap kegiatan pemasaran. berdasarkan prilaku konsumen dalam memperoleh barang dan menggunakannya, produk konsumen dapat dibedakan menjadi:

1)    Convenience product, adalah produk konsumen yang sering diperlukan tanpa banyak memerlukan usaha atau pertimbangann untuk memperolehnya karena produk konsumen tersebut sudah sangat dikenal karena sering digunakan (convenience) atau sering dibeli. Menurut pandangan konsumen, produk konsumen ini dibedakan menjadi 3 kategori:

a)    Staples Products yaitu: Produk konsumen konvenien sehari-hari yang sering dan rutin dibeli

b)    Impluse Products yaitu: Produk konsumen konvenien yang sering dibeli tanpa perencanaan sebelumnya karena terlihat pada saat belanja

c)    Emergency Products yaitu: Produk konsumen kovenien yang harus dibeli dengan segera dan tidak ingin menundanya kemudian

2)    Shopping product, adalah produk konsumen konvenien yang berharga bagi konsumen, sehingga memerlukan usaha dan memperbandingkan (shopping) dahulu mengenai kualitas, merk, harga, penjual, dan sebagainya sebelum menentukan pilihannya. Berdasarkan usaha membandingkannya, produk shopping dibedakan menjadi:

a)    Homogenous Products. Produk-produk konsumen yang relative seragam kemampuannya dalam usaha memenuhi kebutuhan dasar konsumen. Konsumen sudah mengenal tentang keseragaman berbagai ukuran, jenis, dan kualitas produk-produk sejenis sehingga yang diperbandingkan misalnya aspek harga atau merk.

b)    Heterogenous Products. Produk konsumen yang memerlukan usaha pembeli untuk membandingkan satu dengan yang lain. Konsumen lebih berkepentingan membandingkan kualitas dan style produk daripada faktor harganya.

3)    Specialty product, adalah produk konsumen yang benar-benar diperlukan konsumen, sehingga bersedia secara khusus (special) untuk memperolehnya. Karena sangat bearti, konsumen bahkan tidak perlu membandingkan dengan produk lain. Produk ini sangat khusus oleh karenanya tidak mempunyai produk pengganti atau substitusinya.

4)    Unsought product, adalah produk konsumen yang belum atau tidak diperlukan untuk dibeli pada saat itu atau tidak dapat dipergunakan dilingkungannya. Konsumen sebenarnya mampu membeli tetapi karena waktu dan lingkungkungannya tidak memungkinkan maka suatu produk tidak akan dibeli. Bisa saja terjadi konsumen belum atau tidak mengetahui nilai yang sebenarnya dari produk sehingga tidak berusaha untuk membelinya, dan ini dibedakan dalam dua kategori yaitu:

a)    New Unsought Goods yaitu: Produk konsumen yang belum atau tidak dikenal karena tidak tersedia informasinya atau lingkungannya tidak memungkinkan menggunakan pada saat itu. Dengan kata lain, produk ini memang masih baru sehingga tidak menyadari manfaatnya.

b)    Regularly Unsought Goods yaitu: Produk konsumen yang tidak atau belum diperlukan konsumen karena belum merasa perlu memilikinya. Produk-produk ini sebenarnya sudah ada atau dipasarkan., tetapi tidak atau belum diperlukan. Misalnya peti mati belum diperlukan oleh orang yang masih hidup, antenna parabola tidak diperlukan untuk orang yang tidak memiliki TV.

b.    Produk Industrial

Produk industrial (industrial’s good) adalah produk-produk yang dikonsumsi oleh Industriawan untuk kepentingan lain, yaitu untuk diubah, di produksi menjadi produk lain kemudian dijual kembali oleh Produsen atau dijual kembali oleh Pedagang tanpa dilakukan transformasi fisik (proses produksi). Pembeli atau pelanggan produk-produk industrial adalah Produsen dan Pedagang. Oleh karena itu tujuan pembelian produk industrial berbeda dengan pembelian produk konsumen. Produk industrial dibedakan bukan karena usaha produsenmemperolehnya atau pandangan terhadap produknya tetapi dibedakan berdasarkan peranan atau kontribusi produk terhadap produk akhirnya. Dengan kata lain, produk industrial dibedakan berdasarkan bagaimana produsen memperlakukan dan menggunakannya. Atas dasar kontribusinya terhadap produk akhir, produk industrial dibedakan menjadi:

1)    Raw materials, adalah produk dasar alam (natural) atau produk pertanian, peternakan, dan perikanan yang belum diproses sebelumnya

2)    Component materials, adalah komponen produk pabrik (material fabricated) misalnya susu pasturisasi, susu bubuk, tepung darah, dan tepung ikan yang siap diproduksi lagi menjadi produk lain misalnya yoghurt, keju, pakan ternak, pakan ikan, dan yang lainnya yang siap dikonsumsi ataupun diolah kembali menjadi barang tertier lainnya.

3)    Capital item, adalah kekayaan utama yang sebagian dari investasinya diperhitungkan untuk menghasilkan produk akhir. Produk-produk ini meliputi:

a)    Instalasi adalah barang modal (bangunan, tanah, dan mesin-mesin utama) yang diperlukan untuk jangka panjang.

b)    Accessory equipment (Perkakas Pelengkap), adalah barang modal yang diperlukan dalam jangka pendek.

4)    Supplies, adalah produk-produk industrial yang tidak menjadi bagian dari produk akhir, tetapi diperlukan untuk kelancaran operasionalnya. Meliputi:

a)    Maintenance, repair dan operating supplies.

b)    Professional Service, adalah berbagai jasa bisnis professional yang membantu kegiatan usaha. Meliputi pelayanan konsultansi manajemen, teknik, jasa kebersihan, penyediaan makanan dan jasa bisnis yang lain.

STRATEGI PEMASARAN PRODUK

1.    Strategi Pemasaran Pada Tahap Perkenalan Pasar

Pada tahap introduksi atau perkenalan pasar tujuan utama yang ingin dicapai dalam penerapan strategi pemasaran adalah untuk memperoleh kesadaran konsumen terhadap produk. Strategi produk akan diarahkan untuk meyakinkan bahwa standar kualitas produk yang dibuat dapat diterima oleh konsumen. Dalam bidang promosi, tujuan yang ingin dicapai adalah menciptakan kesadaran konsumen terhadap merek produk (brand awareness). Ini berarti pemasar harus mampu menyediakan produk pada jangkauan wilayah yang dilayani; pembentukan jaringan distribusi yang kuat akan sangat mendukung bagi penciptaan kesadaran produk bagi konsumen.

2.    Strategi Pemasaran Pada Tahap Pertumbuhan

Dalam tahap pertumbuhan tujuan utama dari strategi merek adalah untuk memperoleh loyalitasdiantara pelanggan yang telah mencoba menggunakan merek produk perusahaan. Kebijakan produk kemudian diarahkan untuk mengidentifikasi beberapa kekurangan pada produk menurut pandangan konsumen; dan berupaya semaksimal mungkin memmenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Beberapa perubahan dalam strategi pemasaran dapat dimungkinkan dalam tahap pertumbuhan ini. Dalam pengiklanan misalnya, tujuan utama yang ingin dicapai adalah untuk "mendidik" konsumen atau inenjelaskan konsumen tentang manfaat produk. Jadi, pengiklanan kini tidak terbatas lagi hanya pada upaya membentuk pemahaman konsumen terhadap merek produk saja.

3.    Strategi Pemasaran Pada Tahap Kedewasaan

Penjualan pada tahap kedewasaan mulai menurun karena adanya bentuk persaing yang tajam, keusangan teknologi yang dipergunakan, atau mungkin juga perubahan permintaan dan selera konsumen. Strategi pemasaran yang umum dipergunakan dalam tahap kedewasaan ini adalah revitalisasi produk yang ada untuk kemudian menempatkan produk kembali dalam peta persaingan (brand repositioning). Dalam strategi revitalisasi dapat terjadi perusahaan harus melakukan reorientasi terhadap segmen dan target pasar yang akan dilayani di masa datang. Lebih dari itu, karena bentuk persaingan yang dihadapi, maka pada tahap kedewasaan semacam ini perusahaan menghadapi kesulitan untuk menciptakan keunikan produk di pasar. Sebagai akibatnya, pemasar harus bertumpu pada pengiklanan untuk meyakinkan posisi produk di pasar. Pengiklanan akan beralih dari upaya menyajikan informasi menuju pada bentuk kreasi imajiner yang mampu membedakan merek produk perusahaan dengan merek produk pesaing. Biasanya, dalam tahap kedewasaan perubahan dalam bentuk produk hanya sedikit dilakukan.

4.    Strategi Pemasaran Pada Tahap Penurunan

Ketika penjualan perusahaan dan penjualan industri mulai mengalami penurunan yang terus menenerus, maka perusahaan harus mengambil tindakan dengan cara merancang kembali produk dalam waktu singkat atau mungkin juga justru menarik produk dari pasar. Strategi penarikan produk dari pasar (harvesting strategy) dapat dilakukan apabila penerimaan penjualan lebih kecil dibanding dengan biaya-biaya pemasaran yang telah dikeluarkan perusahaan. Apabila strategi yang ditempuh adalah dengan modifikasi produk, maka tujuan utama yang ingin dicapai dalam tahap penurunan penjualan adalah melakukan reintroduksi merek produk. Ini berarti bahwa perusahaan harus berupaya semaksimal mungkin untuk memperkenalkan produk denganmenggunakan formulasi pemasaran yang baru. Dengan demikian, produk diperlakukan seperti halnya produk baru kembali. Tujuan utama pengiklanan dalam hal ini adalah untuk mendidik konsumen atas perbaikan produk yang telah dilakukan perusahaan. Distributor kemudian harus diyakinkan bahwa mereka memiliki persediaan produk memadai. Bentuk-bentuk promosi penjualan yang lain dapat dipergunakan kembali untuk menarik konsumen membeli produk perusahaan dengan "wajah" baru.

PENGERTIAN JASA

Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan pada suatu produk fisik. Karakteristik:

1.    Tidak berwujud (instansibility)

Jasa tidak dapt dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Untuk mengurangi ketidakpastian, pembeli akan mencari tanda atau bukti dari kualitas jasa, mereka akan menarik kesimpulan mengenai kualitas jasa dari tempat, orang lain, peralatan, alat komunukasi, symbol dan harga yang mereka lihat. Karena itu, tugas penyedia jasa adalah “mengelola bukti-bukti itu” untuk “mewujudkan yang tidak berwujud”. Konsumen harus memiliki keyakinan penuh terhadap produsen.

2.    Tidak terpisahkan (inseparability)

Umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsikan secara bersamaan tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan, distribusikan lewat berbagai cara dan kemudian baru di konsumsi.

3.    Tidak dapat diwakili dan bervariasi (variabitity), contoh: pelayanan kesehatan biasanya mempunyai dokter langganan, suatu ketika dokter tidak ada pada saat pemeriksaan dan digantikan oleh suster atau dokter jaga lain, maka ada sesuatu yang dirasa kurang memuaskan. Bervariasi, meskipun jasa yang dijual sama, tetapi berbeda yang menyediakan jasa tersebut, bisa berbeda hasilnya. Contoh: jasa pemotongan rambut A dengan B berbeda meskipun menawarkan harga yang sama dengan model rambut yang sama.

4.    Mudah lenyap dan tidak tahan lama (Perishability), Contoh: transportasi sangat bernilai pada saat berangkat sekolah dan akan menghilang bila sampai sekolah.

MACAM-MACAM JASA

1.    Barang berwujud murni (tidak ada jasa yang menyertai produk tersebut).

2.    Barang berwujud yang disertai jasa

Contoh:

a.    mebel dengan jasa pengiriman

b.    buah-buahan dengan packaging

3.    Campuran yaitu barang jasa yang ditawarkan dengan proporsi yang sama.

Contoh: restoran yang menyediakan makanan dan pelayanan.

4.    Jasa utama yang disertai barang.

Contoh: jasa penerbangan/transportasi dan selama perjalanan ada makanan. Minuman dan majalah.

5.    Jasa murni

Contoh: jasa menjaga bayi, psikoterapi, memijat

STRATEGI PEMASARAN JASA

1.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik tidak berwujud, yaitu:

a.    Menekankan petunjuk-petunjuk yang tampak seperti tempat (desain interior dan eksterior), sumber daya manusia (ramah, responsif, murah senyum, berpakaian rapi), peralatan (komputer, meja, kursi), bahan-bahan komunikasi (brosur, pamflet, leaflet, papan pengumuman), simbol perusahaan dan harga.

b.    Menggunakan sumber daya manusia lebih banyak dari pada sumber daya manusia untuk pemasaran produk.

c.    Menstimulasikan atau mendorong komunikasi dari mulut ke mulut, misalnya memberikan insentif (voucher, cindera mata ) kepada pelanggan yang dapat menarik pelanggan baru bagi perusahaan.

d.    Menciptakan citra organisasi yang kuat.

e.    Memanfaatkan akuntansi biaya dan manajemen biaya dalam penetapan harga, sehingga harga dapat ditetapkan sebaik mungkin.

f.     Melakukan komunikasi purna beli, seperti mengumpulkan informasi mengenai kepuasan maupun keluhan pelanggan.

2.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik tidak terpisahkan yaitu :

a.    Melakukan seleksi dan pelatihan secara cermat terhadap public contact personel.

b.    Menggunakan berbagai macam lokasi jasa.

3.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik bervariasi, yaitu:

a.    Menambah dan memanfaatkan peralatan canggih, serta melakukan standardisasi produksi

b.    Melakukan service customization, artinya meningkatkan intensitas interaksi antara perusahaan dan pelanggan, sehingga produk dan program pemasaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan setiap pelanggan.

4.    Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik tidak tahan lama, yaitu:

a.    Menggunakan berbagai pendekatan untuk mengatasi permintaan yang berfluktuasi (Manajemen permintaan), misalnya;

1)    Tidak melakukan apapun, artinya membiarkan frekuensi dan volume permintaan apa adanya.

2)    Mengurangi permintaan pada periode permintaan puncak.

3)    Meningkatkan permintaan pada saat sepi.

4)    Menyimpan permintaan dengan system reservasi dan janji.

5)    Menerapkan system antrian.

6)    Mengembangkan jasa lain atau pelayanan komplementer.

b.    Melakukan penyesuaian permintaan dan kapasitas secara simultan sehingga tercapai kesesuaian antara keduanya (manajemen penawaran), dengan cara:

1)    Menggunakan karyawan paruh waktu pada periode sibuk.

2)    Menyewa atau berbagai fasilitas dan peralatan tambahan dengan perusahaan lain.

3)    Selama periode sibuk, setiap karyawan hanya melaksanakan tugas-tugas pokok, sementara aktifitas yang bisa ditunda akan dilaksanakan pada saat permintaan sepi.

4)    Meningkatkan partisipasi para pelanggan

5)    Melakukan pelatihan silang kepada karyawan, sehingga karyawan memiliki ketrampilan di bidang lain dan dapt saling membantu bila permintaan ramai.

STUDI KASUS

UD. Monang memproduksi berbagai macam produk kacang seperti kacang koro, kacang disco, kacang kapri, kacang balado dan kacang asin. Bahan baku untuk pembuatan kacang asin diperoleh dari daerah Lombok dan Karangasem dengan harga berkisar antara 21.500/kg pada tahun 2015. Jumlah bahan baku yang diperlukan dalam sekali produksi adalah 100 kg dan perusahaan melakukan produksi kacang asin sebanyak dua kali dalam seminggu dengan jumlah bahan baku 100 kg per satu kali produksi. Berikut tabel jumlah produksi dan jumlah kemasan per satu kali produksi Kacang Asin Merek Cendrawasih di UD. Monang. Jumlah bahan baku yang di produksi untuk kemasan kecil (125 gr) sebanyak 30.000 gr yang menghasilkan 240 pcs, jumlah bahan baku yang di produksi untuk kemasan sedang (225 gr) sebanyak 30.000 gr yang menghasilkan 133 pcs, dan jumlah bahan baku yang di produksi untuk kemasan besar (350 gr) sebanyak 40.000 gr yang menghasilkan 114 pcs. Total keseluruhan kemasan per satu kali produksi sebanyak 488 pcs. Pengolahan bahan baku dilakukan di pabrik UD. Monang yang terletak di jalan Gunung Gede Kapling Persik No. 5 Monang Maning. Proses pengolahan kacang asin di UD. Monang menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:

a.    Kacang Tanah.

b.    Garam Dapur.

c.    Air Bersih.

d.    Panci atau ember.

e.    Tampah atau keranjang bambu.

f.     Mesin molen.

g.    Kompor.

h.    Pengaduk.

i.      Kantong plastik.

j.      Bawang putih.

Proses pembuatan atau pengolahan kacang asin terdiri dari beberapa tahap yang harus dilakukan yaitu mulai dari memilih bahan baku kacang tanah yang berkualitas hingga pengemasan. Berikut penjelasan secara lengkap tentang langkahlangkah pembuatan kacang asin di UD. Monang:

a.    Memilih kacang tanah yang berkualitas. Sortasi kacang tanah berdasarkan bentuk, warna, kecerahan dan besaran ukuran butir kacang. Alat yang digunakan untuk sortiran ini bisa memakai tangan (manual) atau ayakan.

b.    Pembersihan dan penirisan. Pembersihan kacang tanah dilakukan berkali-kali hingga benar-benar bersih agar tidak ditemukan kotoran yang menempel pada biji kacang.

c.    Perebusan. Tujuan dari perebusan ini adalah untuk memperbesar pori-pori kacang tanah sehingga mempermudah proses pembumbuan.

d.    Penjemuran. Penjemuran dilakukan sekitar 6-8 jam tergantung kondisi cuaca.

e.    Disangrai atau disangan. Lama penyangraian selama 15 menit, tidak sampai matang namun mendekati matang.

f.     Pengemasan. Pengemasan kacang Asin Merek Cendrawasih ini terdapat label yang dicantumkan label halal, komposisi dan keterangan izin usaha dengan slogan “Lebih Gurih, Renyah, dan Krezz!!!”.

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Budi Rahayu Tanama Putri,S.Pt., M. (2017). Manajemen Pemasaran. Denpasar: FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS UDAYANA.

Ir. Agustina Shinta, M. P. (2011). Manajemen pemasaran. Malang: UB Press.

Saragih, A., ANGGRENI, I. L., & YUDHARI, I. D. A. S. (2017). Bauran Pemasaran Kacang Asin Merek Cendrawasih pada UD. Monang Denpasar-Bali. Journal of Agribusiness and Agritourism, 165397.

Suatma, J. (2013). Analisis Strategi Inovasi Atribut Produk dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Skuter Matik Merek Honda Vario di Kota Semarang. Jurnal STIE Semarang, 5(2), 19–35.

 

Comments

Popular posts from this blog

RANCANGAN DAN APLIKASI BISNIS : BASRENG

KULIAH TAMU KEWIRAUSAHAAN HIDROPONIK

BAURAN PEMASARAN : PRICE (HARGA)