PENGENDALIAN PRODUKSI DAN SISTEM MANAJEMEN AGRIBISNIS PETERNAKAN
A. Peranan Pengendalian Produksi
Pada umumnya tujuan akhir dari suatu perusahaan
adalah untuk memperoleh keuntungan, keberlanjutan dan pengembangan usaha. Di sisi
lain ada tuntutan konsumen yang harus dipenuhi perusahaan. Tuntutan konsumen
pada umumnya meliputi kualitas baik, harga murah, penyerahaan tepat volume dan
waktu, produk fleksibel dan variatif. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan
pengendalian produksi adalah untuk menghasilkan produk yang dibutuhkan pada
waktunya dengan biaya yang seminimum mungkin dan mengatur serta menganalisa
mengenai pengorganisasian dan pengkoordinasian bahan-bahan, mesin–mesin
peralatan, tenaga manusia dan tindakan-tindakan lain yang dibutuhkan. Dalam
usaha pencapaian tujuan perusahaan, diperlukan adanya kegiatan
pengkoordinasiaan managemen berupa koordinasi dari berbagai bagian atau antar
kegiatan dari perusahaan tersebut, sehingga dapat tercapai suatu kerjasama yang
baik antara bagian pembelian, bagian teknik (engeneering), akuntan dan bagian
penjualan sebagai satu team yang terkoordinir untuk memprooduksi dan menjual
hasil produksi dengan efektif dan efisien. Dengan adanya Ppengendalian produksi
yang baik diharapkan dapat membantu perusahaan untuk menghasilkan barang atau
jasa secara efektif dan efisien.
B.
Pengertian
Pengendalian Produksi
Pengendalian adalah kegiatan untuk menjaga agar
supaya pelaksanaan rencana berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang telah
ditetapkan sehingga pencapaian tujuan dapat terlaksana secara efektif dan
efisien. Sedangkan pengendalian produksi
berarti melakukan otorisasi
produksi sehingga rencana
produksi tercapai. Proses otorisasi ini dilakukan dengan memastikan hal-
hal berikut :
a)
Apakah sumber yang
digunakan dapat memenuhi demand
b)
Apakah produksi dapat
berjalan sesuai rencana
c)
Tindakan apa yang
dilakukan bila keduanya tidak dapat dilaksanakan
C.
RUANG LINGKUP PENGENDALIAN
PRODUKSI
Ruang lingkup pengendalian produksi secara umum meliputi :
a)
Pengelolaan persediaan
dan kebutuhan bahan
b)
Penyeimbangan
lintasan produksi
c)
Penjadwalan masin dan
fasilitas
d)
Pengelolaan beban
kerja dan kapasitas produksi
D.
SISTEM MANAJEMEN
AGRIBISNIS PETERNAKAN
Sistem agribisnis peternakan dapat dipandang
sebagai satu kesatuan manajemen dalam sebuah unit usaha peternakan. Misalnya,
peternak sapi perah melakukan kegiatan agribisnis sebagai mata rantai manajemen
usaha yang menyatu dalam satu unit usaha peternakan sapi perah. (1) kegiatan
pada subsistem praproduksi meliputi penyediaan bibit sapi perah; (2) kegiatan
usaha produksi (budidaya), meliputi pemeliharaan, pemberian pakan, dan
pencegahan penyakit hingga produksi susu segar; (3) kegiatan pascaproduksi,
meliputi pengolahan susu segar dari pabrik pabrik pengolahan dan kegiatan pemasaran
meliputi pemasaran susu segar ke pedagang pengumpul serta susu olahan (susu
kental manis dan susu bubuk) ke konsumen akhir: dan (4) kegiatan jasa penunjang
berupa kredit/ modal, R & D, asuransi, konsultan peternakan, dan kebijakan
pemerintah (Gambar 2.8.).
Ditinjau dalam sistem pemasaran di Indonesia,
hasil produksi susu sapi umumnya dijual ke pabrik-pabrik susu yang ada di
Indonesia seperti PT Nutrifood Indonesia misalnya Tropicana Slim, PT Sari
Husada misalnya susu SGM, PT New Zealand misalnya susu anlene dan sebagainya,
ataupun dapat langsung ke pedagang pengecer dengan menjualnya ke konsumen akhir
dalam bentuk susu segar.


Comments
Post a Comment